televisi vs perkembangan anak
Ditulis oleh diajengani di/pada Juni 1, 2008
Bila mengingat masa kecil saya. saya jadi kasihan dengan anak-anak jaman sekarang. mereka seolah dibiarkan tumbuh sendiri. tanpa ada pembelaan dan perhatian dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Dulu ketika saya masih kecil dan hanya bisa melihat tayangan di TVRI, saya merasakan bahagianya jadi anak-anak. pagi hari saya bisa melihat tayangan Si Unyil yang sarat dengan didikan. Saya juga bisa mendengarkan lagu anak-anak kesukaan saya. Lalu dari orang-orang dewasa di sekitar saya, saya juga bisa menyimak dongeng sebelum tidur.
Tapi sekarang? Dunia pertelevisian Indonesia benar-benar membuat anak-anak kehilangan masa indahnya. hitung saja berapa tayangan yang dikhususkan untuk anak-anak. Bila dibandingkan dengan jam tayang yang ada dan jumlah stasiun televisi yang ada, anak-anak Indonesia benar-benar tak terlihat. Pagi hari di hari libur memang banyak film kartun di televisi, tetapi yang ada adalah kartun buatan luar negeri yang belum tentu cocok dengan budaya Indonesia. Siang hari? Jarang sekali ada tayangan untuk anak-anak. Tak apalah. Karena mereka juga sedang saatnya istirahat. Tapi kala sore hari di saat mereka sudah terjaga dari tidur siangnya? Pada jam itu malah hampir semua stasiun berebut menayangkan gosip. Dan pada malam hari di saat mata mereka belum terpejam, hampir semua stasiun menayangkan sinetron yang dapat meracuni jiwa anak-anak yang masih bersih. Bagaimana tidak dianggap meracuni. Sinetron Indonesia kan banyak mengumbar air mata dan adegan kekerasan (psikis maupun fisik).
Lalu bagaimana dengan lagu anak-anak. Anak-anak kan juga butuh lagu-lagu yang dapat mewakili jiwa mereka. Ternyata sekarang tak ada satupun stasiun televisi yang menyediakan waktu untuk pemutaran lagu untuk anak-anak.
Memang ada stasiun yang membuat acara lomba menyanyi untuk anak-anak (dengan berbagai nama acara) tetapi yang dinyanyikan oleh anak-anak itu malah lagu yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Kasihan mereka. Anak-anak tak memiliki pelindung. Dan kasihan para orang tua yang ingin melindungi anak-anaknya dari pengaruh buruk. Karena pengaruh buruk itu menyerbu anak-anak mereka dengan gencar melalui media elektronik yang seharusnya membantu mereka.
Dan lebih kasihan lagi anak anak yang punya orang tua yang tak peduli dengan perkembangan jiwa mereka! orang tua yang seperti ini saya lihat banyak di negeri ini (mungkin mereka tidak sadar).
Orang tua yang membiarkan anaknya menonton lagu-lagu yang terlalu dewasa untuk umur mereka berarti tak peduli dengan perkembangan jiwa anaknya.
Orang tua yang membiarkan anak-anaknya menikmati sinetron remaja atau sinetron dewasa berarti tak peduli dengan perkembangan jiwa anaknya
Dan yang paling parah adalah orang tua yang berebut chanel dengan anaknya yang sedang nonton film kartun hanya karena si orang tua ingin melihat acara gosip kesukaannya. Dia sungguh-sungguh tak peduli dengan perkembangan jiwa anaknya.
Lalu bagaimana kita menyelamatkan anak kita di tengah serbuan tayangan televisi yang tak mendidik ini? Karena memang televisi tak berpihak pada kita, maka mau tak mau kita yang harus berjuang. bila anak-anak masih tak bisa lepas dari televisi maka lebih baik belikan VCD yang berisi tayangan-tayangan yang mendukung perkembangan jiwa anak-anak.
Selain itu kita sebagai orang tua harus berusaha membuat anak memiliki hobi yang bisa membuat anak-anak terlepas dari televisi. misalnya dengan membuat anak gemar membaca. untuk membuat anak gemar membaca tentu tak dapat dilakukan dengan cara memaksanya membaca sedangkan si orang tua asyik dengan televisi. Salah satu cara untuk membuat anak-anak gemar membaca adalah dengan membacakan cerita-cerita menarik pada anak-anak kita. Dengan seringnya mendengarkan cerita yang menarik, tentu lama-lama anak akan tertarik untuk membaca sendiri.
Intinya sebagai orang tua kita harus benar-benar memperhatikan perkembangan jiwa anak kita. jangan hanya bisa menyalahkan anak ketika anak berperilaku tidak baik tapi juga tanyakan pada diri sendiri apakah selama ini kita telah berusaha dengan maksimal untuk membantu anak kita menjadi yang terbaik.
Jangan hanya bisa menyalahkan anak ketika nilainya jelekĀ karena dia malas belajar. Tetapi lihatlah diri kita, apakah kita sudah cukup berusaha untuk membuat anak gemar membaca ataukah malah kita yang membuat anak malas belajar karena ternyata selama ini kita menyerahkan pengasuhan anak-anak kita pada tayangan-tayangan di televisi.
Media Cuci Otak, Media Pembodohan Massal, Penyebar Fitnah dan Racun Paling Berbahaya Saat ini Bernama Televisi « LAWAN ARUS berkata
[...] televisi vs perkembangan anak Dia juga melihat para suami yang ditayangkan sinetron TV adalah orang-orang yang memiliki rumah yang besar, perabot-perabot yang lengkap, mobil yang mewah, dan selalu memberikan istrinya perhiasan yang indah-indah. Kemudian, ia membandingkan suaminya dengan apa yang dilihatnya di TV. Dia menginginkan suaminya mampu seperti laki-laki ideal yang ada di televisi. Ketika suaminya tidak mampu berbuat seperti itu, dianggapnya suatu kekurangan dari suaminya dan menganggap bahwa suaminya tidak mampu membahagiakan dirinya. Sehingga suaminyapun marah, lalu perselisihan berkecamuk, ikatan perkawinan retak, ikatan terputus. Akibatnya banyak kasus perceraian diakibatkan sikap istri yang kurang perhatian dan pengertian kepada suaminya. Penyebabnya tiada lain adalah TV. [...]
yuniar berkata
saya pribadi merasa prihatin dimana banyak media yang kurang perduli pada perkembangan jiwa anak,salah satu contoh anak-anak sudah tidak lagi berminat menyanyikan lagu anak,tentu dikarenaka minimnya pengetahuan mereka tentang lagu anak.untuk itulah saya bersama teman2 seperti Papa T Bob (pengarang lagu anak)Bens Leo (pemerhati lagu anak dan musik)Boyke Djohan (seorang pengusaha muda yg sukses dan perduli pada perkembangan jiwa anak) dll.Merasa terpanggil untuk membuat satu wadah yang bertujuan untuk mengembalikan eksistensi lagu anak kepangkuan anak.Wadah ini bernama BERNYANYI BERSAMA BACUSA (3B)yang tertuang dalam 1 album lagu anak2 yang bermakna Cinta lingkungan,Kasih sayang,Rasa syukur kepada Tuhan YME dll,lagu2nya dari anak,untuk anak,dan oleh anak.
Icon BACUSA sendiri merupakan penggalan dari kata Badak Bercula Satu,Binatang asli Indonesia dari ujung kulon yang hampir punah dan kita berkewajiban untuk melestarikan.
Untuk itulah mari kita bergandeng tangan mengajak dan mengarahkan anak untuk menyanyikan lagu anak dan tidak menyanyikan lagu orang dewasa,agar anak dapat menggali potensinya tetap sebagai anak melalui lagu.
Besar harapan kami kiranya pembaca dapat berperan serta dalam bentuk support agar niat kami ini dapat terlakana demi kemajuan anak Indonesia. (0818 701 809)