Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 17, 2008
Banyak orang bilang bahwa semua orang lahir sudah membawa sifatnya masing-masing. Tetapi juga tak sedikit orang yang bilang bahwa anak terlahir ke dunia seperti kertas putih. Orang-orang di sekelilingnyalah yang menjadikan dia memiliki karakter tertentu. Dan ada satu pendapat lagi yaitu seorang anak mulai terbentuk karakternya sejak dalam kandungan dan dia akan terlahir ke dunia sudah membawa karakter tertentu yang belum matang yang nanti akan makin terbentuk dengan adanya pengaruh dari lingkungannya setelah dia lahir.
Setelah menjalani sendiri rasanya menjadi ibu, saya sebagai ibu muda dari seorang anak berusia lima bulan lebih setuju dengan pendapat ketiga.
Saya sangat merasakan itu. Ketika sedang mengandung, saya termasuk lebih perasa, lebih pendiam, tak suka bergaul dan lebih suka menghabiskan waktu dengan bacaan-bacaan yang ada di kamar. Ternyata setelah lahir anak saya termasuk anak yang perasa dan pendiam. Tapi ternyata karakter anak saya itu tak bertahan lama, ibu saya dengan telaten mengasuh cucunya dan selalu mengajak anak saya bercerita, serta sering membawa cucunya jalan-jalan. Aktivitas itu otomatis membuat anak saya banyak berinteraksi dengan dunia di luar keluarga inti. Ternyata hal itu berpengaruh positif pada anak saya. Dia kini makin ceria dan tak gampang menangis bila melihat orang yang baru dikenalnya.
Kejadian itu membuat saya berpikir bahwa akan seperti apa karakter seorang anak nantinya sebenarnya tergantung dari didikan pengasuhnya. Dan saya melihat cara mendidik yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh..
Setelah menyadari hal ini maka saya mulai menata segala tindak tanduk saya. Saya mulai berpikir sebenarnya saya ingin anak saya berkarakter seperti apa? dari pemikiran itu saya mulai berusaha berubah. Bila tadinya saya jarang bergaul maka kini karena saya tak ingin anak saya menjadi anak pemalu maka saya biasakan untuk jalan-jalan sebentar bila hari libur. Dan bila sedang tak libur maka sore hari saya sering mengajak anak saya duduk di depan rumah.
Ternyata perubahan itu bukan hanya membawa pengaruh positif pada anak saya tapi juga pada saya pribadi. Saya jadi lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah. Anak saya juga tidak terlalu takut bila dibawa ke lingkungan baru. Dan yang lebih penting lagi karena sekarang saya banyak menghabiskan waktu luang saya bersama anak maka kini saya mudah menebak keinginan anak saya bila dia menangis.
Selain itu saya juga mulai lebih bisa mengontrol emosi. Karena sejak berpikir “saya ingin anak saya menjadi orang yang tak emosional dalam menyikapi segala sesuatu hal” maka saya selalu berusaha mengendalikan hati dan kata-kata saya dalam setiap interaksi saya dengan orang lain. Walau belum berhasil seratus persen tapi keinginan untuk memiliki anak yang berkarakter baik benar-benar menjadi pemompa semangat saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.
Saya semakin merasakan bahwa dengan memiliki anak, maka saya semakin bisa mengendalikan diri, hati dan pikiran saya.
Ditulis dalam curahan hati, my diary harianku, pendidikan, pendidikan anak | Bertanda: anak, blog, curhat, Islam, pendidikan | 1 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 14, 2008

utek
Anak adalah harta yang sangat berharga bagi kedua orang tuanya. Semua orang yang menikah pasti mengharapkan hadirnya keturunan. Celoteh seorang anak adalah hal yang sangat dirindukan oleh semua orang yang sudah berumah tangga. Banyak yang berusaha dengan segala macam cara agar segera mendapatkan keturunan.
Dan setelah benih cinta itu bersemai di rahim sang istri maka segala cara mereka lsayakan agar anak mereka nantinya akan jadi yang terbaik. Tapi tak sedikit juga yang tak tau bagaimana caranya agar anak mereka bisa menjadi yang terbaik. Banyak ibu hamil yang hanya berpikir mereka harus makan banyak karena sekarang ada anak di dalam perut mereka.
Saya adalah seorang ibu muda yang baru saja dikaruniai seorang anak. Qinthara Hilya Nesa, nama yang kami berikan untuk buah hati kami. Sejak kehadirannya dalam perutku saya berusaha lsayakan yang terbaik. Mulai dari makan makanan bergizi, minum susu untuk ibu hamil, bahkan karena tsayat. Hal buruk terjadi padsa anakku maka segala pantangan orang tua jaman dulu baik yang masuk akal maupun yang hanya mitos tak berani saya langgar.
Kini setelah dia lahir saya bersyukur tapi juga merenungi segala hal yang karena kesalahanku tak bisa saya berikan pada anakku.
Hingga sekarang saya masih merasa bersalah karena merasa kurang berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan fungsi otaknya.
Setelah hamil 5 bulan saya baru tahu musik bisa memaksimalkan fungsi otak si anak. Saat itu saya mendapat dua ilmu. Pertama musik klasik dapat memaksimalkan fungsi otak anak. Lalu yang kedua Al Quran juga saya dengar dapat memaksimalkan fungsi otak anak. Saya bingung akan pake cara yang mana. Maka secara asal saya gunakan keduanya. Kadang saya putar musik klasik tapi kadang juga saya putar Murottal..
Berbagai opini yang saya dengar membuat saya tak bisa memutuskan mana yang akan saya gunakan secara maksimal. Dan setelah anak saya lahir saya tak lagi memutarkan musik klasik ataupun Murottal. ternyata saya dengar selama masih dalam masa tiga tahun pertama maka fungsi otak anak masih dapat dioptimalkan dengar berbagai cara.
Saya berpendapat tak ada kata terlambat. Walau anakku sekarang sudah lima bulan tapi yakin karena di masih dalam masa emas maka saya masih dapat lsayakan itu.
Sekarang satu masalah lagi yang kami hadapi yaitu musik klasik ataukah Murottal yang akan kami perdengarkan pada anak kami. Setelah mencari berbagai artikel maka saya putuskan mulai hari ini, sejak tulisan ini saya buat akan saya perdengarkan Al Quran di setiap kesempatan.
Kenapa saya mngambil keputusan seperti itu? Saya berusaha menemukan jawaban manakan yang lebih bisa memaksimalkan fungsi otak, musik klasik ataukah murottal. Semakin saya cari saya semakin bingung karena sang penulis artikel tentu lebih mengunggulkan pilihannya.
Akhirnya hati nuranilah yang saya gunakan. Saya tak tahu mana yang lebih baik. Maka saya yakin Allah Tahu yang terbaik. Saya berpikir harmonisasi irama yang Allah ciptakan tentu lebih indah dan lebih bermanfaat dari harmonisasi irama ciptaan manusia sepintar apapun dia.
Ditulis dalam Islam, curahan hati, pendidikan, pendidikan anak | Bertanda: Al-Quran, Banyumas, berita, heboh, Islam, pendidikan anak, SMA N 5 Purwokerto | 3 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 13, 2008
Saya sekarang sedang merasa bersedih dengan nasib Bahasa Indonesia. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya dapat merasakan betapa tersisihnya pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika pelajaran banyak dari siswa yang saya ajar tak konsentrasi sepenuhnya pada pelajaran karena mereka menganggap Bahasa Indonesia pelajaran yang gampang. “ga nyimak ga papa. baca sendiri juga bisa”. Mungkin begitu kata hati mereka.
Pemikiran mereka sangat tidak sesuai dengan kenyataan. hal itu sangat jelas terlihat ketika mereka mengikuti ulangan praktik. Ketika diminta menyimak lalu membuat ringkasan ternyata mereka belum bisa benar-benar menbedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting. ringkasan mereka banyak yang asal salin.
Hal serupa juga terlihat di kemampuan berbahasa yang lain. Tulisan mereka ternyata masih banyak yang hanya asal nulis. Kualitas berbicara mereka juga masih jauh dari bagus. Lalu kecepatan membaca mereka juga masih memprihatinkan.
Ketika dihadapkan pada hasil praktik mereka barulah mereka berkata bahasa Indonesia sulit. mereka bilang mereka tak suka membaca ataupun menulis sehingga hasil praktik mereka jelek.
Saya sungguh heran dengan jawaban mereka. Kenapa rasa tidak suka mereka jadikan alasan penyebab nilai mereka yang buruk.
Apakah mereka tak berpikir bahwa banyak di antara mereka yang tak cinta pelajaran yang lain, misal kimia, matematika atau fisika, tapi mereka berusaha untuk memahami karena mereka takut mendapatkan nilai jelek. Dan akhirnya walau tak bisa meraih nilai tertinggi tetapi kesungguhan mereka telah membuat mereka berhasil mencapai batas tuntas.
Ternyata karena tak menganggap sulit maka mereka dengan enteng menghadapi pelajaran Bahasa Indonesia. Tentu saja hasilnya sudah dapat ditebak. apapun itu bila kita menjalani sesuatu tanpa persiapan matang maka dapat dipastikan hasilnya seadanya.
Saya heran, banyak siswa yang bangga ketika mereka menguasai Bahasa Inggris dengan baik tapi jarang yang berusaha sekuat tenaga agar bisa menguasai Bahasa Indonesia dengan baik.
Yah itulah nasibmu kini Bahasa Indonesiaku yang tercinta. engkau dianggap remeh oleh bangsamu sendiri. Padahal semua orang tahu ketika seseorang menganggap remeh Bahasanya sendiri maka itu berarti dia juga sedang menganggap remeh bangsanya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya kenapa bangsa lain meremehkan Bangsa Indonesia. Bila kita tak cinta dengan bangsa kita maka tak mungkin bangsa lain kan cinta pada bangsa kita.
Ditulis dalam pendidikan | Bertanda: bahasa, bahasa indonesia, guru, indonesia, pendidikan | 1 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 11, 2008
Aku ingin menjadi penulis! itulah khayalanku dulu ketika masih SMA. tapi semua itu terus saja hanya menjadi keinginan karena aku tak punya cukup motivasi tuk wujudkan keinginanku ini. tetapi kini setelah menikah aku merasakan keinginan itu muncul kembali.
Keinginan itu aku rasakan telah berubah dari khayalan menjadi harapan. dan kala aku bercerita pada suamiku, ternyata dia sangat mendukungku dan memang sangat berharap aku tak hanya sekedar memiliki pekerjaan tetapi aku bisa merasa bangga dengan suatu hal yang aku kerjakan.
Aku akui sejak aku mengajar lima tahun lalu, aku sekadar menjadikan profesiku sebagai tempat aku mencari uang tapi bukan tempat aku beraktivitas sepenuh hati. Hal itu aku rasakan karena memang awalnya aku tak bercita-cita menjadi guru.
Kini. setelah menikah, apalagi setelah aku menerima SK CPNS aku mulai merasa harus berubah. Aku dibayar untuk menjadi guru maka bila aku tak laksanakan dengan sebaik mungkin maka aku telah menjadikan profesiku ini sebagai tambang dosa yang akan membuatku tersiksa di hari akhir nanti. maka aku berjanji pada diri sendiri untuk mulai mencintai profesiku ini.
Dan aku merasa cintaku mulai tumbuh ketika aku merasa ternyata dengan mengajar aku bisa memupuk kembali keinginanku tuk jadi penulis.
Bagaimana tidak! Profesi sebagai guru benar-benar membuat hidup ini makin hidup karena tiap hari tak ada yang monoton. Setiap hari ada saja yang bisa membuat aku berpikir untuk menjadikannya sebagai tulisan.
Tetapi semua itu sampai saat ini masih menjadi harapan, dan aku belum berhasil membuatnya menjadi cita-cita. Aku katakan begitu karena sampai sekarang aku masih saja “menulis bila ada inspirasi’ dan bukan ‘mencari inspirasi untuk menulis”.
Tapi aku bahagia karena dengan dukungan dari suamiku maka aku mulai membuat jalan agar mimpi-mimpiku ini menjadi cita-cita.
Aku katakan dulu aku baru berkhayal menjadi penulis karena dulu aku hanya mengandai-andai tanpa melakukan apapun. Lalu kemarin aku katakan aku berharap menjadi penulis karena aku tak lagi hanya berkhayal tapi aku sudah mulai mencoba menulis tetapi aku tak melakukan apapun tuk tingkatkan kualitas tulisanku, dan sekarang aku katakan aku bercita-cita menjadi penulis karena aku sedah mulai menulis dengan terrencana. aku mewajibkan diriku tuk menulis setiap hari, apapun temanya dan berapapun jumlah tulisannya.
Suamiku selalu mendukungku dan menyemangati aku tuk terus menulis. entah kapan aku kan jadi penulis yang sebenarnya tapi dengan terus mengungkapkan isi hati dan pikiranku dalam bentuk tulisan maka semakin lama aku kan semakin mahir dan suatu saat nanti kan tiba saatnya aku kan jadi penulis yang sesungguhnya.
Terima kasih suamiku karena kau slalu berusaha aberikan yang terbaik untukku dan selalu berusaha tuk jadikan aku menjadi maniusia yang lebih baik.
Ditulis dalam curahan hati | Bertanda: cita-cita, harapan, jadi penulis, motivasi | 2 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 5, 2008
Apakah negeri ini sudah begitu banyak kehilanganorang-orang yang berhati nurani
Semalam saya melihat acara apa kabar indonesia di salah satu stasiun TV. di situ tampil Kemat cs yang awalnya dijatuhi hukuman atas perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.
Saya benar-benar tercengang ketika mereka berkisah bagaimanamereka dipaksa mengakui dosa yang tidak pernah mereka lakukan. mereka dipukuli. dan sebagai orang kecil yang lugu mereka akhirnya mengaku cuma karena berpikir “yang penting tidak disiksa lagi.
Dengan mendengarkan langsung kisah mereka saya yakin polisi bukan “cuma salah tangkap” karena kalau salah tangkap kan karena bukti yang ada menunjuk pada mereka tapi ternyata salah. tapi ini?
Benar-benar luar biasa hati polisi-polisi ini. mereka sudah benar-benar kehilangan hati nurani. jelas-jelas mereka tak punya barang bukti kok ya pisau yang sedang digunakan untuk memasak danggap sebagai barang bukti. berarti jelas bahwa mereka hanya berpikir yang penting ada tersangka.
Tak dapat saya bayangkan hati ketiga orang itu. mereka pasti berpikir masa depannya sudah hancur. dan bila kini mereka bisa bebas. saya yakin karena mereka benar-benar sudah pasrah p0ada Allah. ketika kepasrahan telah sampai titik tertinggi di situlah “tangan Allah bergerak’. doa mereka dijawab dengan tertangkapnya Ryan si pembunuh berantai. Saat Ryan mengakui bahwa Mr X adalah Asrori dan terbukti dengan tes DNA maka itu adalah bukti yang tak terbantahkan lagi bahwa pihak-pihak yang mengurusi penemuan mayat di kebun tebu telah melakukan kesalahan besar.
Saya tak punya ilmu yang cukup untuk membahas tentang bagaimana cara mengidentifikasi mayat, tapi saya hanya ingin berbicara dengan hati nurani saya. kalau cara mebuat orang mengaku adalah dengan cara memukuli maka saya yakin orang-orang tak punya merasa mereka tak punya pilihan lain. dan mereka hanya bisa bersandar pada pemikiran bahwa Allah pasti akan menegakkan keadilan.
Saya berpikir tertangkapnya Ryan tak lepas dari ’skenario’ Allah tuk menolong orang yang tak berdaya itu yang tlah benar-benra menyerahkan nasibnya padaNYa dengan pengaduan tiada henti dalam setiap waktu-waktunya.
Seharusnya dari hal ini kepolisian benar-benar bertobat dan tak lagi memaksa orang mengaku dengan cara menyiksa.
Apakah mereka tak takut Azab Allah?
Atau bila mereka memang sudah melupakan adanya hari pembalasan, setidaknya mereka berpikir adanya hukum karma. apakah mereka tak takut bila mereka atau anak-anak mereka mengalami nasib yang sama. mungkin tak sama persis kejadiannya tapi masih seputar dituduh bersalah untuk hal yang tidak pernah mereka lakukan.
Ah..negara ini memang sudah sedemikian semrawutnya. maka tak heran bila banyak masyarakat yang sudah tak percaya dengan kepolisian.
Bahkan di desa saya banyak orang bilang kalau ada apa-apa jangan lapor polisi. kalau lapor polisi itu ibarat sedih karena kehilangan ayam tapi malah jadi kehilangan kambing. karena kalau kita kehilangan sesuatu trus lapor polisi biasanya harus bayar ini itu bila ingin kasusnya ditangani.
Oh indonesia…bila sedemikian buruknya akhlak para penghuninya maka tak heran bila azab Allah turun berupa bencana alam di sana sini yang hampir terjadi setiap hari.
Ditulis dalam hukum | Bertanda: hukum, peradilan | Leave a Comment »