Diajengani’s Weblog

Catatan Harian Bu Guru

Bahasa Indonesia Tersisih di Negeri Sendiri

Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 13, 2008

Saya sekarang sedang merasa bersedih dengan nasib Bahasa Indonesia.  Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya dapat merasakan betapa tersisihnya pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika pelajaran banyak dari siswa yang saya ajar tak konsentrasi sepenuhnya pada pelajaran karena mereka menganggap Bahasa Indonesia pelajaran yang gampang. “ga nyimak ga papa. baca sendiri juga bisa”. Mungkin begitu kata hati mereka.

Pemikiran mereka sangat tidak sesuai dengan kenyataan. hal itu sangat jelas terlihat ketika mereka mengikuti ulangan praktik. Ketika diminta menyimak lalu membuat ringkasan ternyata mereka belum bisa benar-benar menbedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting. ringkasan mereka banyak yang asal salin.

Hal serupa juga terlihat di kemampuan berbahasa yang lain. Tulisan mereka ternyata masih banyak yang hanya asal nulis. Kualitas berbicara mereka juga masih jauh dari bagus. Lalu kecepatan membaca mereka juga masih memprihatinkan.

Ketika dihadapkan pada hasil praktik mereka barulah mereka berkata bahasa Indonesia sulit. mereka bilang mereka tak suka membaca ataupun menulis sehingga hasil praktik mereka jelek.

Saya sungguh heran dengan jawaban mereka. Kenapa rasa tidak suka mereka jadikan alasan penyebab nilai mereka yang buruk.

Apakah mereka tak berpikir bahwa banyak di antara mereka yang tak cinta pelajaran yang lain, misal kimia, matematika atau fisika, tapi mereka berusaha untuk memahami karena mereka takut mendapatkan nilai jelek. Dan akhirnya walau tak bisa meraih nilai tertinggi tetapi kesungguhan mereka telah membuat mereka berhasil mencapai batas tuntas.

Ternyata karena tak menganggap sulit maka mereka dengan enteng menghadapi pelajaran Bahasa Indonesia. Tentu saja hasilnya sudah dapat ditebak. apapun itu bila kita menjalani sesuatu tanpa persiapan matang maka dapat dipastikan hasilnya seadanya.

Saya heran, banyak siswa yang bangga ketika mereka menguasai Bahasa Inggris dengan baik tapi jarang yang berusaha sekuat tenaga agar bisa menguasai Bahasa Indonesia dengan baik.

Yah itulah nasibmu kini Bahasa Indonesiaku yang tercinta. engkau dianggap remeh oleh bangsamu sendiri. Padahal semua orang tahu ketika seseorang menganggap remeh Bahasanya sendiri maka itu berarti dia juga sedang menganggap remeh bangsanya sendiri.

Mungkin itulah sebabnya kenapa bangsa lain meremehkan Bangsa Indonesia. Bila kita tak cinta dengan bangsa kita maka tak mungkin bangsa lain kan cinta pada bangsa kita.

Satu Tanggapan ke “Bahasa Indonesia Tersisih di Negeri Sendiri”

  1. M Djoko Yuwono berkata

    CATATAN BUAT GURU BAHASA INDONESIA

    Ini dia, tema yang selalu menarik untuk kita bahas. Kenapa selama ini kita cenderung menyalahkan pihak lain, ketika penggunaan bahasa Indonesia kian tidak tertata? Guru menyalahkan murid, murid menyalahkan guru; kemudian guru dan murid menyalahkan masyarakat umum–termasuk media massa.

    Banyak cara, sebenarnya, bisa dilakukan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Tetapi, secara keilmuan, guru bahasa Indonesia memiliki tanggung jawab lebih besar ketimbang masyarakat umum, utamanya dalam melakukan pembinaan langsung terhadap penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah kebahasaan melalui lembaga pendidikan.

    Keluhan bahwa siswa banyak yang tak sepenuhnya mau berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia, menurut hemat saya juga menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia itu sendiri untuk mencari solusinya.

    Kritik saya terhadap guru bahasa Indonesia: Selama ini mereka cenderung menekankan pada ajaran yang bersifat teoritis, hafalan, sehingga membuat para peserta ajar jenuh dan tidak bergairah mengikuti pelajaran.

    Para guru bahasa Indonesia selama ini hanya mengedepankan kompetensinya dalam hal penguasaan materi pembelajaran untuk ditularkan kepada peserta didik. Ini tidak diimbangi dengan penerapan kompetensi lain yang tak kalah pentingnya yakni pemahaman mereka terhadap landasan dan wawasan pendidikan.

    Dalam konteks itu, menurut hemat saya, para guru bahasa Indonesia juga harus memahami filosofi pendidikan, sosilogi pendidikan, psikologi pendidikan, dan lain-lain; termasuk di dalamnya memahami teori belajar, memahami perkembangan peserta didik, dan memahami pendekatan sistem dalam pendidikan.

    Dengan begitu, seorang guru bahasa Indonesia tak saja merasa cukup dengan “memaksa” peserta didik untuk menyimak, berbicara, membaca, dan menulis materi yang diajarkannya.

    Untuk mengajarkan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan lain-lain, misalnya, sejauh yang bisa saya amati selama ini, para guru umumnya cuma bisa “memaksa” peserta didik untuk menghafal. Semua peserta didik diperlakukan sama. Guru tidak kreatif.

    Apa yang harus dilakukan? Sebelum menyalahkan peserta didik, menurut saya, para guru bahasa Indonesia harus pula mampu melakukan hal-hal sbb:

    * Mengembangkan perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia secara baik dan konsisten;
    * Mengidentifikasi karakteristik peserta didik;
    * Mengembangkan materi pembelajaran;
    * Mengembangkan metode, media, dan sumber belajar;
    * Menentukan strategi pembelajaran;
    * Memiliki keterampilan dasar-dasar pembelajaran;

    Apakah hal-hal seperti itu sudah dilakukan secara konsisten dan penuh dedikasi? Mohon tanggapan.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>