Diajengani’s Weblog

Catatan Harian Bu Guru

Arsip untuk Maret, 2009

MAKSIMALKAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA

Ditulis oleh diajengani di/pada Maret 27, 2009

Sudah cukup lama saya bingung mengatasi anak yang sering ribut bila sedang diajar bahasa Indonesia. Mereka bersikap seolah-olah tidak butuh pelajaran bahasa Indonesia. Mereka hanya diam kala saya marah. Mereka akan ulangan juga banyak yang tidak belajar. Tingkah mereka seolah-olah menunjukkan bahwa tanpa belajar pun mereka mampu meraih nilai yang baik dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Akhirnya saya lakukan beberapa hal yaitu:

a. minta anak tuk tulis cita-cita mereka

b. minta anak untuk menuliskan keterampilan berbahasa yang mana yang mereka butuhkan untuk mencapai cita-cita mereka. Minta mereka tuk tuliskan keterampilan berbahasa yang sangat mereka butuhkan (bila dikaitkan dengan cita-cita mereka) tapi belum maksimal pembelajarannya.

d. Tulisan mereka juga sekaligus sebagai bahan bagi saya tuk perbaiki cara mengajar yang sesuai kurikulum tapi juga sangat mereka butuhkan unutk mendukung profesi mereka.

Setelah tulisan mereka terkumpul, saya melihat hasil tulisan mereka. Ternyata anak-anak benar berhasil menuliskan pentingnya bahasa Indonesia bagi mereka. Hal itu paling tidak menjadi usaha awal bagi saya agar mereka tak menyepelekan bahasa Indonesia lagi.

Selain itu tulisan mereka juga saya jadikan bahan tuk mengubah gaya mengajar saya yang awalnya dalam mengembangkan kurikulum hanya sesuai kenginan saya, menjadi sesuai kebutuhan anak. Dari tulisan mereka juga saya mendapatkan hal positif. Ternyata cukup banyak siswa yang tidak terlalu berani berbicara (bila diminta tunjuk jari mereka tak berani) sebenarnya ingin bisa berbicara dengan baik.

Ada juga siswa yang ingin materi menulis bukan hanya dasarnya tapi benar sampe pada kriteria tuk layak muat di media massa (kata mereka agar semangat tuk menulis, kan tujuannya jelas: agar bisa dimuat di media dan bukan hanya ditumpuk di meja kerja guru.

Dari hal itu saya sedikit mengubah cara saya. untuk materi menulis, penilaian yang saya lakukan saya ubah dari yang awalnya berupa tes tertulis menjadi unjuk kerja (maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil kerjanya).

Selain itu saya juga menyiapkan satu blog untuk menampilkan tulisan mereka yaitu http://bindosmala.blogspot.com. Saya tak membatasi karya yang dimuat (karena saya berpikir mereka akan berusaha membuat yang bagus karena tahu tulisannya bukan hanya dibaca oleh guru tapibisa diakses oleh semua orang).

Dan sesuai permintaan mereka saya juga memperbanyak tampilan berbicara. Cara saya untuk menyiasati waktu adalah: tak meminta anak membuat tulisan yang banyak tapi yang penting berkualitas.

Ternyata setelah tahu tulisan mereka yang pendek harus dibacakan di depan kelas sedangkan tugas bulanan yang berupa naskah jadi akan dimuat di blog Alhamdulillah, mereka jadi semangat tuk mengikuti pelajaran dan menjadi lebih aktif.

Mungkin itu pengalaman saya yang bisa saya bagikan pada semua pembaca. Saya akan terus berusaha membuat siswa merasa Bahasa Indonesia sangat mereka butuhkan. Karena bagi saya, bila seseorang sudah merasa membutuhkan sesuatu maka tanpa dipaksa pun mereka kan berusaha mendapatkannya.

Inilah yang saya harapkan dari perkembangan pola ajar saya. saya harap mereka berpikir “Saya membutuhkan Bahasa Indonesia untuk meraih cita-cita”.

Ditulis dalam pendidikan | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Remaja Indonesia, Kenapa Tak Bisa Dibanggakan?

Ditulis oleh diajengani di/pada Maret 23, 2009

Pribadi negatif, rendah diri, lemah, manja, mengedepankan emosi. Itulah yang terpikir di benak saya kala terlintas kata ”remaja Indonesia masa kini”. Pikiran itu begitu kuat melekat dalam pikiran saya karena sampai sekarang jarang sekali terdengar kabar tentang adanya remaja indonesia yang mengharumkan nama bangsa.

Hal ini makin diperparah dengan banyaknya kasus kriminal yang dilakukan para remaja. Saya sulit melihat remaja Indonesia dengan kacamata positif karena begitu banyak contoh kejadian yang semakin memperkuat pemikiran saya bahwa remaja Indonesia betul-betul calon penerus bangsa yang parah.

Fenomena ini dapat di lihat dalam keseharian mereka di mana mereka tanpa malu mengakui bahwa mereka memang orang-orang dengan bodoh dengan mencontek ketika ulangan. Ketika mereka mempersiapkan contekan untuk ulangan mata pelajaran tertentu ini menunjukkan bahwa mereka memang merasa daya ingat mereka lemah (kalau tak menganggap diri sendiri bodoh tentu saja mereka lebih memilih belajar daripada membuat contekan. Toh sama-sama harus membaca materi ulangan)

Bahwa mereka adalah orang-orang yang terlalu mudah mengedepankan emosi juga terlihat dari banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan para remaja seperti tawuran antar pelajar, beredarnya video kekerasan pelajar dll. Tapi hadirnya remaja dengan mental seperti itu tak bisa membuat kita menyalahkan remaja begitu saja. Karena sebuah pribadi terbentuk melalui proses yang panjang yang disebut pola asuh. Orang tua jaman sekarang terlihat begitu sibuk menyiapkan anak-anaknya secara fisik tapi sering lupa tuk mempersiapkan mental anaknya.

Hal ini dapat dilihat dengan begitu sibuknya orang tua dalam mencari nafkah sehingga mereka hanya menyerahkan pengasuhan anaknya pada pembantu atau lebih parahnya pada televisi. Kondisi ini makin diperparah dengan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih mementingkan pembentukan otak siswa.

Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar mengajarkan pada anaknya untuk menganggap kebohongan sebagai hal biasa. Misalnya, meminta anak untuk mandi dengan iming-iming akan diajak jalan-jalan yang ternyata janji itu tidak ditepati. Kalau melihat hal ini, saya jadi berpikir ternyata kita tidak bisa menyalahkan remaja saja. Karena mereka tak akan jadi seperti itu tanpa andil orang-orang yang mengasuh mereka sedari kecil.

Ditulis dalam pendidikan anak | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »