Ditulis oleh diajengani di/pada Mei 2, 2009
Hari ini sangat indah.
Itu kata hatiku kala kulihat anakku bangun tidur dengan nyaman dan tertawa gembira.
Hari ini sangat indah. itu aku rasakan kala suamiku dengan sbar ingatkan aku yang malas untuk bangun dan segera shalat subuh
Hari ini sangat indah, hal ini makin aku rasakan kala suamiku tersenyum manis walau kopi yang aku hidangkan terlalu manis.
hari ini sangat indah kala kusadari suamiku terus menyemangati aku tuk terus berlatih menulis
Hari ini makin aku rasakan kala anakku tak rewel ketika dititipkan ke mbah.
Hari ini sangat indah kala ku lihat orang tuaku tak mengeluh walo harus mengasuh anakku karena kau harus bekerja.
hari ini benar-benar indah kala kusadari Allah tlah beri aku orang-orang terbaik tuk mennemani perjalanan hidupku.
terima kasih Ya Allah tlah Kau beri aku orang-orang terbaik
Ditulis dalam curahan hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh diajengani di/pada Mei 2, 2009
Orang bilang jadi guru harus bisa digugu dan ditiru. Itu memang benar. Karena pepatah itulah bila ada guru yang marah pada muridnya seolah guru itu adalah guru yang tidak baik. Bila ada guru yang nyambi jadi penjual baju, tukang ojek dan lain-lain maka orang akan berkata “wah, tidak pantas guru seperti itu”
Karena label guru itulah maka bila anak guru nakal maka orang akan melihat dengan lebih teliti, tapi bila yang nakal bukan anak guru maka orang kadang melihatnya sebagai kenakalan wajar seorang remaja.
Wah, berat benar beban guru. Apa mereka pikir guru itu malaikat? guru juga manusia yang kadang marah karena siswa sudah sangat keterlaluan tingkahnya.
Guru adalah manusia biasa seperti manusia yang lain yang kadang harus lesu di kelas karena beratnya beban ekonomi yang mereka pikul.
Bila memang yang diinginkan masyarakat adalah guru yang setengah dewa maka saya yakin tak mungkin terwujud.
Tapi memang kita juga tak bisa memerima kala ada guru yang betukl-betul tak bermoral tetap mengajar dengan tenang.
Kita seharusnya berusaha bersama agar guru di Indonesia menjadi guru yang ideal. Hal itu harus dimulai dari mas kuliah mereka. harus ada materi tentang bagaimana kepribadian seorang guru. yang saya harapkan dilanjutkan dengan pembinaan di masa mereka sudah bekerja.
Juga harus ada pembinaan berkelanjutan pada guru tentang bagaimana cara berinteraksi siswa sehingga tak ada perbedaan persepsi antara guru senior dan guru yunior tentang bagaimana cara berinteraksi dengan siswa.
Kenapa saya berpendapat seperti itu. karena perbedaan pola didik di masa kecil umumnya guru senior akan menganggap siswa yang sering beradu argumen dengan gurunya akan dianggap siswa rewel, ngeyelan, tukang mbantah dll. Tapi untuk guru yang dididik dalam alam demokratis maka dia akan menganggap adu argumen adalah hal yang biasa.
Jadi jangan hanya menyalahkan guru. pahamilah guru sebagaimana manusia pada umumnya.
Inilah sekelumit pemikiran saya. ini adalah opini pribadi saya, yang tidak menutup kemungkinanan ada orang -orang tak sependapat dengan saya.
Ditulis dalam curahan hati, pendidikan | Bertanda: guru, pendidikan, pola asuh, siswa | 1 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada April 19, 2009
Tanggal 17-18 April 2009 adalah hari yang sangat bermakna dalam hidup saya. Betapa tidak, hari itu saya bisa bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Saya sebagai guru Bahasa Indonesia selama ini hanya bisa berkhayal dapat bertemu dengan para sastrawan, budayawan ataupun pemred suatu media. tetapi hari ini saya bisa mengalami apa yang selama ini hanya ada dalam mimpi saya. Hari itu saya bisa bertemu dua orang yang saya kagumi yaitu Putu Wijaya dan Shanaz Haque.
Tanggal 17 April 2009 adalah hari pertama saya mengalami hal luar biasa ini. Saya bisa melihat dari dekat sebenarnya seperti apa orang media itu. Dan orang yang pertama membuat saya terpesoana adalah Putu Wijaya. Sungguh, saya tak pernah bermimpi bisa ketemu langsung dengan beliau. Saya seakan lupa bahwa saya adalah guru. tak henti-hentinya saya memandangnya dengan kekaguman luar biasa. Dan ketika sesi foto-foto saya tak peduli lagi bahwa saya sudah bukan ABG lagi. Saya tidak puas hanya dengan foto rame rame. Saya nekat minta foto berdua, bahkan bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Tapi ini terjadi bukan karena saya ingin punya banyak koleksi tapi karena saya menganggap foto yang sudah diambil kurang bagus. setelah saya merasa hasil fotonya maksimal barulah saya berhenti. Bila menginggat saat itu kadang saya tersenyum geli. dan juga merasa agak bersalah.
Kenapa saya merasa geli sekaligus bersalah? Yaaa…karena saya sudah membuat Bu Sus ikut lelah karean ulah saya. Bagaimana tidak? Lha wong yang tek minta motret saya dengan Pak Putu ya Bu Sus ini, ya otomatis Bu Sus jadi ikut repot karena saya tak kunjung puas dengan hasil fotonya, maap nggih bu
.
Oh ya, seperti layaknya seorang fans, saya juga tak mau ketinggalan untuk minta tanda tangan beliau. pokoknya hari itu sangat membahagiakan bagi saya.
Belum sirna kebahagiaan saya di hari pertama. Di hari kedua saya mendapatkan kebahagiaan lagi karena dapat bertemu dengan artis yang sangat memperhatikan keluarganya dan juga yang jauh dari gosip. di hari itu saya mendapatkan itu yang sangat bagus yaitu bagaimana caranya agar bisa berkpmunikasi efektif dengan semua murid saya.
Wah, ilmu-ilmunya luar biasa. dia mengajarkan bagaimana memahami karakter semua siswa dan mengantar mereka semua ke cita-cita mereka.
Dia juga mengajarkan bagaimana merasa nyaman dan bahagia dengan profesi kita. saya rasa ilmu ini sangat penting karena berhadapan dengan begitu banyak karakter bisa saja membuat guru merasa frustasi karena tak bisa mengendalikan kelas dan akhirnya jadi tak lagi mencintai profesinya.
waaah, pkoknya dua hari ini benar-benar istimewa. terima kasih pada TELKOM dan REPUBLIKA yang sudah mengadakan acara CSR Pendidikan Pelatihan Guru.
dan tak lupa juga terima kasih pada Bapak Mustofa karena sudah mengijinkan saya mengikuti acara ini.
Ditulis dalam curahan hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 17, 2008
Banyak orang bilang bahwa semua orang lahir sudah membawa sifatnya masing-masing. Tetapi juga tak sedikit orang yang bilang bahwa anak terlahir ke dunia seperti kertas putih. Orang-orang di sekelilingnyalah yang menjadikan dia memiliki karakter tertentu. Dan ada satu pendapat lagi yaitu seorang anak mulai terbentuk karakternya sejak dalam kandungan dan dia akan terlahir ke dunia sudah membawa karakter tertentu yang belum matang yang nanti akan makin terbentuk dengan adanya pengaruh dari lingkungannya setelah dia lahir.
Setelah menjalani sendiri rasanya menjadi ibu, saya sebagai ibu muda dari seorang anak berusia lima bulan lebih setuju dengan pendapat ketiga.
Saya sangat merasakan itu. Ketika sedang mengandung, saya termasuk lebih perasa, lebih pendiam, tak suka bergaul dan lebih suka menghabiskan waktu dengan bacaan-bacaan yang ada di kamar. Ternyata setelah lahir anak saya termasuk anak yang perasa dan pendiam. Tapi ternyata karakter anak saya itu tak bertahan lama, ibu saya dengan telaten mengasuh cucunya dan selalu mengajak anak saya bercerita, serta sering membawa cucunya jalan-jalan. Aktivitas itu otomatis membuat anak saya banyak berinteraksi dengan dunia di luar keluarga inti. Ternyata hal itu berpengaruh positif pada anak saya. Dia kini makin ceria dan tak gampang menangis bila melihat orang yang baru dikenalnya.
Kejadian itu membuat saya berpikir bahwa akan seperti apa karakter seorang anak nantinya sebenarnya tergantung dari didikan pengasuhnya. Dan saya melihat cara mendidik yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh..
Setelah menyadari hal ini maka saya mulai menata segala tindak tanduk saya. Saya mulai berpikir sebenarnya saya ingin anak saya berkarakter seperti apa? dari pemikiran itu saya mulai berusaha berubah. Bila tadinya saya jarang bergaul maka kini karena saya tak ingin anak saya menjadi anak pemalu maka saya biasakan untuk jalan-jalan sebentar bila hari libur. Dan bila sedang tak libur maka sore hari saya sering mengajak anak saya duduk di depan rumah.
Ternyata perubahan itu bukan hanya membawa pengaruh positif pada anak saya tapi juga pada saya pribadi. Saya jadi lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah. Anak saya juga tidak terlalu takut bila dibawa ke lingkungan baru. Dan yang lebih penting lagi karena sekarang saya banyak menghabiskan waktu luang saya bersama anak maka kini saya mudah menebak keinginan anak saya bila dia menangis.
Selain itu saya juga mulai lebih bisa mengontrol emosi. Karena sejak berpikir “saya ingin anak saya menjadi orang yang tak emosional dalam menyikapi segala sesuatu hal” maka saya selalu berusaha mengendalikan hati dan kata-kata saya dalam setiap interaksi saya dengan orang lain. Walau belum berhasil seratus persen tapi keinginan untuk memiliki anak yang berkarakter baik benar-benar menjadi pemompa semangat saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.
Saya semakin merasakan bahwa dengan memiliki anak, maka saya semakin bisa mengendalikan diri, hati dan pikiran saya.
Ditulis dalam curahan hati, my diary harianku, pendidikan, pendidikan anak | Bertanda: anak, blog, curhat, Islam, pendidikan | 1 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 14, 2008

utek
Anak adalah harta yang sangat berharga bagi kedua orang tuanya. Semua orang yang menikah pasti mengharapkan hadirnya keturunan. Celoteh seorang anak adalah hal yang sangat dirindukan oleh semua orang yang sudah berumah tangga. Banyak yang berusaha dengan segala macam cara agar segera mendapatkan keturunan.
Dan setelah benih cinta itu bersemai di rahim sang istri maka segala cara mereka lsayakan agar anak mereka nantinya akan jadi yang terbaik. Tapi tak sedikit juga yang tak tau bagaimana caranya agar anak mereka bisa menjadi yang terbaik. Banyak ibu hamil yang hanya berpikir mereka harus makan banyak karena sekarang ada anak di dalam perut mereka.
Saya adalah seorang ibu muda yang baru saja dikaruniai seorang anak. Qinthara Hilya Nesa, nama yang kami berikan untuk buah hati kami. Sejak kehadirannya dalam perutku saya berusaha lsayakan yang terbaik. Mulai dari makan makanan bergizi, minum susu untuk ibu hamil, bahkan karena tsayat. Hal buruk terjadi padsa anakku maka segala pantangan orang tua jaman dulu baik yang masuk akal maupun yang hanya mitos tak berani saya langgar.
Kini setelah dia lahir saya bersyukur tapi juga merenungi segala hal yang karena kesalahanku tak bisa saya berikan pada anakku.
Hingga sekarang saya masih merasa bersalah karena merasa kurang berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan fungsi otaknya.
Setelah hamil 5 bulan saya baru tahu musik bisa memaksimalkan fungsi otak si anak. Saat itu saya mendapat dua ilmu. Pertama musik klasik dapat memaksimalkan fungsi otak anak. Lalu yang kedua Al Quran juga saya dengar dapat memaksimalkan fungsi otak anak. Saya bingung akan pake cara yang mana. Maka secara asal saya gunakan keduanya. Kadang saya putar musik klasik tapi kadang juga saya putar Murottal..
Berbagai opini yang saya dengar membuat saya tak bisa memutuskan mana yang akan saya gunakan secara maksimal. Dan setelah anak saya lahir saya tak lagi memutarkan musik klasik ataupun Murottal. ternyata saya dengar selama masih dalam masa tiga tahun pertama maka fungsi otak anak masih dapat dioptimalkan dengar berbagai cara.
Saya berpendapat tak ada kata terlambat. Walau anakku sekarang sudah lima bulan tapi yakin karena di masih dalam masa emas maka saya masih dapat lsayakan itu.
Sekarang satu masalah lagi yang kami hadapi yaitu musik klasik ataukah Murottal yang akan kami perdengarkan pada anak kami. Setelah mencari berbagai artikel maka saya putuskan mulai hari ini, sejak tulisan ini saya buat akan saya perdengarkan Al Quran di setiap kesempatan.
Kenapa saya mngambil keputusan seperti itu? Saya berusaha menemukan jawaban manakan yang lebih bisa memaksimalkan fungsi otak, musik klasik ataukah murottal. Semakin saya cari saya semakin bingung karena sang penulis artikel tentu lebih mengunggulkan pilihannya.
Akhirnya hati nuranilah yang saya gunakan. Saya tak tahu mana yang lebih baik. Maka saya yakin Allah Tahu yang terbaik. Saya berpikir harmonisasi irama yang Allah ciptakan tentu lebih indah dan lebih bermanfaat dari harmonisasi irama ciptaan manusia sepintar apapun dia.
Ditulis dalam Islam, curahan hati, pendidikan, pendidikan anak | Bertanda: Al-Quran, Banyumas, berita, heboh, Islam, pendidikan anak, SMA N 5 Purwokerto | 3 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Desember 11, 2008
Aku ingin menjadi penulis! itulah khayalanku dulu ketika masih SMA. tapi semua itu terus saja hanya menjadi keinginan karena aku tak punya cukup motivasi tuk wujudkan keinginanku ini. tetapi kini setelah menikah aku merasakan keinginan itu muncul kembali.
Keinginan itu aku rasakan telah berubah dari khayalan menjadi harapan. dan kala aku bercerita pada suamiku, ternyata dia sangat mendukungku dan memang sangat berharap aku tak hanya sekedar memiliki pekerjaan tetapi aku bisa merasa bangga dengan suatu hal yang aku kerjakan.
Aku akui sejak aku mengajar lima tahun lalu, aku sekadar menjadikan profesiku sebagai tempat aku mencari uang tapi bukan tempat aku beraktivitas sepenuh hati. Hal itu aku rasakan karena memang awalnya aku tak bercita-cita menjadi guru.
Kini. setelah menikah, apalagi setelah aku menerima SK CPNS aku mulai merasa harus berubah. Aku dibayar untuk menjadi guru maka bila aku tak laksanakan dengan sebaik mungkin maka aku telah menjadikan profesiku ini sebagai tambang dosa yang akan membuatku tersiksa di hari akhir nanti. maka aku berjanji pada diri sendiri untuk mulai mencintai profesiku ini.
Dan aku merasa cintaku mulai tumbuh ketika aku merasa ternyata dengan mengajar aku bisa memupuk kembali keinginanku tuk jadi penulis.
Bagaimana tidak! Profesi sebagai guru benar-benar membuat hidup ini makin hidup karena tiap hari tak ada yang monoton. Setiap hari ada saja yang bisa membuat aku berpikir untuk menjadikannya sebagai tulisan.
Tetapi semua itu sampai saat ini masih menjadi harapan, dan aku belum berhasil membuatnya menjadi cita-cita. Aku katakan begitu karena sampai sekarang aku masih saja “menulis bila ada inspirasi’ dan bukan ‘mencari inspirasi untuk menulis”.
Tapi aku bahagia karena dengan dukungan dari suamiku maka aku mulai membuat jalan agar mimpi-mimpiku ini menjadi cita-cita.
Aku katakan dulu aku baru berkhayal menjadi penulis karena dulu aku hanya mengandai-andai tanpa melakukan apapun. Lalu kemarin aku katakan aku berharap menjadi penulis karena aku tak lagi hanya berkhayal tapi aku sudah mulai mencoba menulis tetapi aku tak melakukan apapun tuk tingkatkan kualitas tulisanku, dan sekarang aku katakan aku bercita-cita menjadi penulis karena aku sedah mulai menulis dengan terrencana. aku mewajibkan diriku tuk menulis setiap hari, apapun temanya dan berapapun jumlah tulisannya.
Suamiku selalu mendukungku dan menyemangati aku tuk terus menulis. entah kapan aku kan jadi penulis yang sebenarnya tapi dengan terus mengungkapkan isi hati dan pikiranku dalam bentuk tulisan maka semakin lama aku kan semakin mahir dan suatu saat nanti kan tiba saatnya aku kan jadi penulis yang sesungguhnya.
Terima kasih suamiku karena kau slalu berusaha aberikan yang terbaik untukku dan selalu berusaha tuk jadikan aku menjadi maniusia yang lebih baik.
Ditulis dalam curahan hati | Bertanda: cita-cita, harapan, jadi penulis, motivasi | 2 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Mei 22, 2008
Selamat datang di weblog aku, terimakasih kamu sudah berkenan mengunjungi blog aku. aku senang kamu bisa mengunjungi blog aku. tak ada penghargaan yang lebih yang aku sampaikan kecuali simpati yang mendalam terhadap apresiasi yang telah kamu berikan pada blog aku. semoga berkenan dan selalu mengunjungi blog aku ini.
Ditulis dalam curahan hati | Bertanda: blog, selamat, simpati | 1 Komentar »