Ditulis oleh diajengani di/pada Mei 2, 2009
Orang bilang jadi guru harus bisa digugu dan ditiru. Itu memang benar. Karena pepatah itulah bila ada guru yang marah pada muridnya seolah guru itu adalah guru yang tidak baik. Bila ada guru yang nyambi jadi penjual baju, tukang ojek dan lain-lain maka orang akan berkata “wah, tidak pantas guru seperti itu”
Karena label guru itulah maka bila anak guru nakal maka orang akan melihat dengan lebih teliti, tapi bila yang nakal bukan anak guru maka orang kadang melihatnya sebagai kenakalan wajar seorang remaja.
Wah, berat benar beban guru. Apa mereka pikir guru itu malaikat? guru juga manusia yang kadang marah karena siswa sudah sangat keterlaluan tingkahnya.
Guru adalah manusia biasa seperti manusia yang lain yang kadang harus lesu di kelas karena beratnya beban ekonomi yang mereka pikul.
Bila memang yang diinginkan masyarakat adalah guru yang setengah dewa maka saya yakin tak mungkin terwujud.
Tapi memang kita juga tak bisa memerima kala ada guru yang betukl-betul tak bermoral tetap mengajar dengan tenang.
Kita seharusnya berusaha bersama agar guru di Indonesia menjadi guru yang ideal. Hal itu harus dimulai dari mas kuliah mereka. harus ada materi tentang bagaimana kepribadian seorang guru. yang saya harapkan dilanjutkan dengan pembinaan di masa mereka sudah bekerja.
Juga harus ada pembinaan berkelanjutan pada guru tentang bagaimana cara berinteraksi siswa sehingga tak ada perbedaan persepsi antara guru senior dan guru yunior tentang bagaimana cara berinteraksi dengan siswa.
Kenapa saya berpendapat seperti itu. karena perbedaan pola didik di masa kecil umumnya guru senior akan menganggap siswa yang sering beradu argumen dengan gurunya akan dianggap siswa rewel, ngeyelan, tukang mbantah dll. Tapi untuk guru yang dididik dalam alam demokratis maka dia akan menganggap adu argumen adalah hal yang biasa.
Jadi jangan hanya menyalahkan guru. pahamilah guru sebagaimana manusia pada umumnya.
Inilah sekelumit pemikiran saya. ini adalah opini pribadi saya, yang tidak menutup kemungkinanan ada orang -orang tak sependapat dengan saya.
Ditulis dalam curahan hati, pendidikan | Bertanda: guru, pendidikan, pola asuh, siswa | 1 Komentar »
Ditulis oleh diajengani di/pada Maret 23, 2009
Pribadi negatif, rendah diri, lemah, manja, mengedepankan emosi. Itulah yang terpikir di benak saya kala terlintas kata ”remaja Indonesia masa kini”. Pikiran itu begitu kuat melekat dalam pikiran saya karena sampai sekarang jarang sekali terdengar kabar tentang adanya remaja indonesia yang mengharumkan nama bangsa.
Hal ini makin diperparah dengan banyaknya kasus kriminal yang dilakukan para remaja. Saya sulit melihat remaja Indonesia dengan kacamata positif karena begitu banyak contoh kejadian yang semakin memperkuat pemikiran saya bahwa remaja Indonesia betul-betul calon penerus bangsa yang parah.
Fenomena ini dapat di lihat dalam keseharian mereka di mana mereka tanpa malu mengakui bahwa mereka memang orang-orang dengan bodoh dengan mencontek ketika ulangan. Ketika mereka mempersiapkan contekan untuk ulangan mata pelajaran tertentu ini menunjukkan bahwa mereka memang merasa daya ingat mereka lemah (kalau tak menganggap diri sendiri bodoh tentu saja mereka lebih memilih belajar daripada membuat contekan. Toh sama-sama harus membaca materi ulangan)
Bahwa mereka adalah orang-orang yang terlalu mudah mengedepankan emosi juga terlihat dari banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan para remaja seperti tawuran antar pelajar, beredarnya video kekerasan pelajar dll. Tapi hadirnya remaja dengan mental seperti itu tak bisa membuat kita menyalahkan remaja begitu saja. Karena sebuah pribadi terbentuk melalui proses yang panjang yang disebut pola asuh. Orang tua jaman sekarang terlihat begitu sibuk menyiapkan anak-anaknya secara fisik tapi sering lupa tuk mempersiapkan mental anaknya.
Hal ini dapat dilihat dengan begitu sibuknya orang tua dalam mencari nafkah sehingga mereka hanya menyerahkan pengasuhan anaknya pada pembantu atau lebih parahnya pada televisi. Kondisi ini makin diperparah dengan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih mementingkan pembentukan otak siswa.
Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar mengajarkan pada anaknya untuk menganggap kebohongan sebagai hal biasa. Misalnya, meminta anak untuk mandi dengan iming-iming akan diajak jalan-jalan yang ternyata janji itu tidak ditepati. Kalau melihat hal ini, saya jadi berpikir ternyata kita tidak bisa menyalahkan remaja saja. Karena mereka tak akan jadi seperti itu tanpa andil orang-orang yang mengasuh mereka sedari kecil.
Ditulis dalam pendidikan anak | Bertanda: pola asuh, pola asuh orang tua, remaja, remaja indonesia, salah asuhan | Leave a Comment »